Public Relation

Selain kemampuan teknis dan kemampuan berbahasa Inggris, kemampuan manajerial juga menjadi kompetensi dasar untuk menjadi seorang PR.

Dewasa ini, informasi dan komunikasi berkembang sangat pesat. Bahkan dapat dikatakan, era yang sekarang merupakan era informasi. Tidak hanya di dunia, melainkan juga di Indonesia. Ini terlihat dari banyaknya media yang muncul di Indonesia. Siapa yang menguasai informasi maka ia akan menguasai dunia. Pesatnya perkembangan informasi dan komunikasi ini menjadi faktor pendorong maraknya pendidikan di bidang komunikasi. Seperti pendidikan Public Relations (PR).

”PR merupakan dampak dari berkembangnya informasi di suatu negara. Karena itu, PR sangat erat kaitannya dengan media. Hal ini dikarenakan, PR harus menjangkau orang dengan jumlah yang banyak. Yang hanya dapat dijangkau dengan menggunakan bantuan media,” jelas Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations (LSPR) Jakarta Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR.

Prita menjelaskan, peminat program studi PR semakin meningkat dari hari ke hari. Ini karena masih banyak masyarakat yang melihat profesi PR sebagai profesi yang glamor. Padahal, tambahnya, PR berfungsi sebagai orang yang mengemas informasi dari suatu instansi untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat. PR juga berfungsi sebagai orang yang memberikan image instansinya kepada masyarakat luas. Karena itulah, PR dituntut untuk memiliki beberapa kompetensi. Seperti kompetensi di bidang sosiologi dan antropologi tidak hanya secara nasional, tapi juga secara internasional.

PR juga harus memiliki kemampuan bahasa yang memadai. Setidaknya bahasa Inggris yang telah menjadi bahasa dunia. Sehingga seorang PR dapat berkomunikasi dengan siapa saja tanpa terhalang bahasa. Dasar-dasar logika pun menjadi penting bagi seorang PR. Karena pekerjaannya yang tidak lepas dari common sense. Selain itu, PR juga harus memiliki pengetahuan seputar bidang yang digelutinya. Karena PR merupakan ujung tombak suatu instansi yang memberikan informasi kepada masyarakat. “Jika PR tidak mengerti bidang masalah yang dijalaninya, maka bagaimana ia akan menyampaikan informasi kepada orang lain,” jelas Prita.

Untuk mencapai kompetensi itu, LSPR melakukan beberapa hal. Seperti menggunakan kurikulum yang berasal dari London Chamber of Commerce of Industry Examination Boards (LCCIEB). Yaitu lembaga uji di Inggris yang sudah ada sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Meskipun menggunakan kurikulum dari luar, namun LSPR masih menggunakan kurikulum nasional. Tercatat, jumlah mata kuliah dari LCCIEB yang diadopsi LSPR mencapai 50 persen.

Prita menjelaskan, keterlibatan LCCIEB tidak hanya sebatas penggunaan mata kuliah saja, namun juga meliputi penyelenggaraan ujian untuk beberapa mata kuliah. Mata kuliah yang ujiannya dari LCCIEB adalah, mata kuliah PR, Marketing, Mass Communication, English for Business of Communication, dan mata kuliah Advertising.

Selain menggunakan kurikulum dari luar, LSPR juga menekankan kepada bahasa Inggris. Bahkan dikatakan, bahasa Inggris merupakan keharusan bagi mahasiswa LSPR. Ini terlihat dari beban yang besar untuk mata kuliah bahasa Inggris. Selama empat semester awal, mahasiswa diharuskan untuk mengambil mata kuliah bahasa Inggris. Bahkan, bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar pun diusahakan menggunakan bahasa Inggris. ”Baik oleh tenaga pengajar lokal maupun tenaga pengajar asing yang mengajar di sini,” jelas Prita. .

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=311782&kat_id=151

Google, 04.11.2007 15:26:39

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: